Sejarah MPU Bada


SEJARAH MPU BADA 
(EDISI BAHASA INDONESIA)

KATA PEMBUKAAN
Dukut ni dukuten, Sukut-sukuten ni sukutken. 
Mpungta meningkahken, jelma perpodi mengekutken
Terjemahan :
Rumput dirumputi, Cerita di ceritakan.
Leluhur menjalani, anak cucu mengikutkan.

PENDAHULUAN
Seperti pepatah mengatakan, :
 “Pohon Salak tumbuh disemak, hidup segan mati terbuang,
   Sejarah Pakpak tinggal dibenak, Rugi disimpan, dibuang sayang”. 
Hal inilah yang mendorong sehingga aku berkeinginan untuk menuliskan apa yang ingin kukatakan. Kalaupun Kisah ini kurang berkenan dihati, setidaknya aku telah berbagi. Karena apa yang  kudengar dan kuketahui, apalah artinya kalau untuk dibawa mati.
Inilah sebagian kecil  Sejarah Mpu Bada yang kuketahui dan kutuliskan kedalam Empat Kisah Mpu Bada, yaitu :
1.Kisah Mpu Bada dan Sienem Koden. 
2.Kisah Perserakan Sienem Koden.
3.Kisah Permesawari, Boangmanalu dan Bancin.
4.Kisah Perebutan Sienem Koden dan Liang Gemuh.

          BAB. I
  KISAH MPU BADA DAN SIENEM KODEN

Mpu Bada diperkirakan sudah berada di tanah Klasen sekitar abad XV M berkaitan dalam masa kejayaan  negeri Barus sebagai Kota Pelabuhan dan Pusat Perdagangan Internasional (Abad 1 – 17 M). Negeri Barus selalu ramai dikunjungi saudagar-saudagar dari Luar Negeri seperti China, India, Arab dan Persia. Pada mulanya para saudagar ini hanya membawa Kamper/Kapur Barus dari negeri Barus. Kemudian mereka menelusuri daerah Klasen sampai ke Simsim (Pakpak Bharat sekarang) untuk mendapatkan rempah-rempah berupa kulit manis dan Kemenyan. Sejak saat itu Salak mulai berkembang menjadi Pusat Perekonomian ketiga setelah Barus dan Singkil. Sambil berdagang  orang Arab menyebarkan agama Islam dan dari sinilah awalnya orang Barus, Pakkat, Marbun Sehun (Kec.Tarabintang sekarang), Klasen dan Simsim mengenal agama Islam. Mpu Bada mempunyai ulayat/wilayah kekuasaan di daerah Klasen (Kec.Parlilitan Humbahas sampai ke Manduamas-Tapteng). 
Mpu Bada adalah cucu dari Raja Sigalingging. Raja Sigalingging mempunyai tiga orang anak yaitu Guru Mangarissan (Sigorak), Raja Tinatea ( Sitambolang) dan Namora Pangujian (Parhaliang). Guru Mangarissan merantau ke Barus karena perselisihan dengan saudaranya Raja Tinatea. Guru Mangarissan mempunyai tiga orang anak yaitu, Op.Limbong, Op.Bonar dan Mpu Bada. (Mpu adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang memiliki kesaktian atau jabatan Pendeta pada Jaman Hindu). Silsilah ini berkaitan dengan pengakuan pada Pertemuan marga Sigalingging se Indonesia di salah satu Hotel di Parapat (± Tahun 1987) yang pada waktu itu dihadiri oleh utusan Marga Gajah dan Berasa (Pa Lamsani Berasa) dari Parmonangan-Pakkat. Dalam salah satu agenda pertemuan tersebut mereka berharap dapat menemukan keberadaan keturunan Guru Mangarissan yang dikhabarkan berada di wilayah Klasen. Dari hati yang tulus mereka memeluk, menggendong utusan marga Gajah dan Berasa dengan penuh rasa haru dan gembira. Mereka meyakini bahwa Gajah dan Berasa  adalah bagian dari keturunan Guru Mangarissan Sigalingging yang saat itu tarombonya terputus karena kehilangan berita keberadaannya.
Mpu Bada mempunyai seorang isteri yaitu beru Pohan dari Kampung  Lobu Tua Barus. Dari hasil perkawinan ini Mpu Bada mempunyai keturunan enam laki-laki yaitu : Tendang , Banurea, Manik, Beringin, Gajah, Berasa dan satu perempuan yang bernama Permesawari. Mpu Bada  bertubuh besar, konon dikisahkan bahwa embun pagi  di dedaunan kayu baja ditepiskannya dari celananya. Dan ia juga sering memancing di Lae Sinendang Aceh Singkil dan memanggangnya di Klasen. Dengan postur tubuh yang besar dia bisa berjalan cepat sepertinya melayang.  Dia juga adalah orang yang sakti mandraguna yang terbukti  mampu membunuh Burung Garuda yang sangat ganas di Lobu Tua. Burung Garuda ini dibinasakan Mpu Bada dan jatuh disebuah hulu sungai. Karena begitu besarnya, bangkai burung ini membusuk cukup lama yang mengakibatkan aliran air berbau busuk yang kemudian orang menamai sungai itu “Aek Busuk”. Didalam sejarah disebut adanya “Serangan Kelompok Gergasi” yang mengakibatkan perkampungan multi etnis di Lobu Tua (Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu,dll), ditinggalkan secara mendadak. Dan sampai sekarang Para ahli sejarah belum bisa mengidentifikasi tentang sosok Gergasi ini. Kemungkinannya kelompok Gergasi ini adalah serangan burung Garuda yang ganas itu. (Burung Garuda yang memangsa manusia di Barus ada di Perpustakaan Nasional). Mpu Bada tidak tinggal menetap disuatu tempat tapi selalu berkelana didalam ulayat kekuasaannya. Kemudian Mpu Bada membagi wilayah Klasen menjadi enam bagian sesuai dengan jumlah anaknya. Sesuai adat kebiasaan jika seorang anak dipajae (mandiri dari tanggungan orang tua), maka diberikanlah kepadanya perbekalan hidup berupa tanah ulayat, beras dan Periuk ( Periuk = Koden = Hudon). Sejak itu Wilayah Kekuasaan Mpu Bada menjadi enam bagian wilayah/ulayat kekuasaan. Inilah dasar serta awalnya Pinempar Mpu Bada Tendang , Banurea,Manik,Beringin,Gajah dan Berasa  disebut “Sienem Koden”. Dalam bahasa Batak Toba disebut “Sionom Hudon”. Dan ini pula lah dasarnya Tugu Mpu Bada bisa berdiri di Tanah Sindeas Manduamas, karena Manduamas adalah bagian dari Ulayat Sienem Koden. Di kemudian hari datanglah Tuan Nahoda Raja (Simbolon Tua di Samosir) ke wilayah Sienem Koden. Kemudian Tuan Nahoda Raja mempunyai tujuh orang anak yaitu, Simbuyak-buyak, Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan dan Nahampun, dan keturunannya inilah yang disebut dengan “Pengisi Sienem Koden”. (Pendatang di Sionom Hudon).
Di Lobu Tua, Mpu Bada ini dikenal dengan sebutan Datuk Mudo, karena dia adalah Datuk yang terakhir disana. Akhirnya Mpu Bada meninggal dan dikuburkan di Lobu Tua Barus di Kampung mertuanya. Dia dikuburkan pada kuburan istimewa yang diperuntukkan bagi kaum para Datuk (orang-orang sakti) karena Mpu Bada diakui kesaktiannya yang sangat berjasa menyelamatkan penduduk dengan membunuh burung garuda sipitu takal dengan sebilah golok saktinya. Burung Garuda si Pitu Takal (bhs Indonesia = Burung Garuda tujuh kepala) adalah suatu kiasan yang menggambarkan tentang keganasan Burung Garuda tersebut. Golok Mpu Bada tersebut mempunyai tulisan/aksara yang belum dapat diterjemahkan dan sampai saat ini masih disimpan marga Pohan di Lobu Tua. Bisa jadi Bahasa Sansekerta atau Bahasa Tamil.
Inilah Sejarah Mpu Bada dan Sienem Koden di Daerah Klasen. Mungkin selama ini terjadi kesalahan pemahaman yang disebabkan keterbatasan informasi. Untuk itu perlu diluruskan untuk menghindarkan kesimpang siuran sejarah yang sesungguhnya.

BAB. II
     KISAH PERSERAKAN SI ENEM KODEN
Kehidupan sosial Rumah Tangga Berkeluarga pada jaman dahulu tidak seperti saat ini. Rumah sebagai tempat tinggal dibangun bersama dan ditempati bersama. Demikian juga dalam mencari nafkah, keturunan Mpu Bada membuka ladang bersama dan berburu atau memancing ikan untuk dimakan bersama. Bagi kaum perempuan selain urusan didapur mereka menjaga ladang dari hama pengganggu.
Pada suatu ketika keluarga keturunan Mpu Bada dilanda suatu masalah yang cukup pelik. Permesawari dicurigai telah berbadan dua, namun ia tak pernah memberi tahukan siapa lelaki yang menghamilinya. Sesuai kebiasaan maka diadakanlah Runggu (Rapat Umum). Lokasi tempat runggu ini berada diatas batu yang datar yang terbentuk secara alami. ( ada di dusun Kerungguen di Desa Sionom Hudon Runggu).
Runggu pun dibuka,namun pada waktu itu si Rea (belum Banurea) tidak hadir karena sedang berburu. Si Tendang selaku anak sulung bertindak sebagai Pimpinan Runggu melaksanakan sidang. Tapi satupun pertanyaan yang diajukan si Tendang tidak dijawab oleh Permesawari. Mereka berfikir jangan2  si Manik yang berulah, karena dialah yang selalu mengantar bekal (makanan) untuk Permesawari di ladang. Maka penyidikan beralih kepada si Manik. Namun si Manik pun tidak mau buka mulut dan satu pertanyaan pun dia tidak menjawab. Akibatnya anggota Runggu menjadi marah, semua yang hadir menekan si Manik. Pada akhirnya si Tendang mengambil suatu maklumat. “Berani karena benar,takut karena salah, kalian berdua sama sekali tidak memberikan jawaban membantah ataupun memberi tahu kejadian yang sebenarnya”. mata si Tendang mulai melotot marah, demikian juga dengan yang lainnya tidak bersimpati lagi kepada Si Manik dan Permesawari. “ Tidak ada orang lain disini, kalau bukan si Manik siapa lagi”, lanjut si Tendang menekan. “Apakah engkau telah membuat ulah,karena setiap harinya hanya engkau yang mengantar makanan saudari kita”, kata si Tendang mulai menuduh. “Engkau telah melakukan hal yang tak pantas serta melanggar adat istiadat kita, sesuai hukum, maka lehermu akan digorok diatas sungai dan jasadmu akan dihanyutkan kelaut, agar kutukan atas dosamu, berlalu dari tanah orang tua kita Mpu Bada”. si Tendang menjatuhkan vonis sembari mengangkat palunya untuk disahkan. Tapi si Beringin, si Gajah dan si Berasa menahan keputusan si Tendang dan memberikan saran dihadapan sidang. “Kurasa, ini belum bisa menjadi suatu keputusan, karena saudara kita si Rea belum hadir disini, saran kami alangkah baiknya kita tunggu si Rea, apa pendapatnya, jangan2 dia yang punya ulah” kata si Beringin mewakili saudaranya yang lain. “Baiklah kalau begitu, kita tunggu kedatangan si Rea”. kata si Tendang mengakhiri sidang.
Pekerjaan sehari-hari si Rea adalah berburu. Hampir semua hutan yang ada dikawasan itu sudah dijelajahinya. Kalau nasib baik dia cepat pulang membawa hasil buruannya, tapi ada kalanya sampai dua atau tiga hari dia baru mendapatkan buruannya. Dua hari kemudian pulang lah si Rea dengan hasil buruannya, sementara saudara2nya sedang menunggu kedatangannya untuk penyelesaian masalah si Permesawar dan si Manik. Keesokan harinya, Runggu pun dibuka kembali. Si Tendang mengawali Runggu dengan menceritakan hasil Runggu yang telah dilaksanakan pada hari yang lalu. Pada saat mendengar kata pembukaan itu, si Rea berfikir dan menduga kuat bahwa si Manik telah berlangkah salah dengan Permesawari. Tapi bagaimana akal untuk dapat menyelamatkan si Manik dari Hukuman. Kemudian si Tendang pun melanjutkan sidang “Sekarang kita sudah kumpul semua, bagaimana pendapatmu, Rea, katakanlah biar semua kita mendengar” kata si Tendang memecah keheningan yang mulai tegang. Kemudian dengan menarik nafas panjang, si Rea berkata dengan sikap tenang. “Saudara2ku, ternyata kalian sudah menanyakannya kepada si Manik, tapi dia tidak mengakui perbuatannya, bagaimana mungkin dia kita nyatakan bersalah ?” si Rea mencoba membela si Manik. “Kalau bukan dia, siapa lagi, tak ada orang lain yang tinggal disini, hanya dia yang setiap hari mengantar bekalnya ke ladang” bantah si Tendang mempertahankan keyakinannya. Situasi semakin menegangkan karena si Rea yang di-tunggu2 belum memberikan pendapat seperti yang mereka harapkan. Setelah berfikir, si Rea pun berbicara dengan pelan penuh kehati-hatian, “Sebenarnya bukan si Manik yang punya ulah, saudaraku!” kata si Rea sambil menundukkan kepalanya yang terasa semakin berat. “Kalau begitu, siapa menurut pendapatmu yang membuat ulah kepada turang kita ini ?” desak si Tendang dengan suara agak keras. “Bukan si Manik, tapi akulah yang berulah” aku si Rea dengan terus menunduk. “Kaunya rupanya yang punya ulah,yang melanggar adat dan yang melakukan yang tidak patut kepada saudari kita, maka kau harus dihukum”, kata si Tendang dengan tegas. Dalam keadaan pasrah si Rea mengangkat kepalanya secara perlahan dan berkata, “ Aku siap menerima hukuman sesuai Hukum Adat kita, tapi aku mempunyai permintaan terakhir, mohon dapat dikabulkan  agar arwahku dapat tenang di Alam Baka” pinta si Rea dihadapan sidang. “Permohonan diterima, katakanlah, kami akan mengabulkan Permintaan Terakhirmu” jawab si Tendang. “Begini saudaraku, biarkanlah aku seorang diri pergi mersodip (berdoa) di Delleng Sempoon untuk memohon pengampunan kepada Yang Kuasa dan keesokan harinya boleh lah kalian datang untuk  melaksanakan penghukuman atas diriku.” kata si Rea dengan nada pasrah. “Baiklah, permintaanmu dikabulkan” kata si Tendang seraya mengetuk palu tanda  sidang selesai.
Waktu terus berjalan, pada suatu kesempatan ketika matahari mulai tenggelam, si Rea mendekati si Manik dan berbisik kepadanya, “Demi keselamatan kita berdua, berkemaslah malam ini, besok pagi-pagi buta, segera tinggalkan kampung kita ini, larilah kearah Delleng Sempoon, ikuti jalan ku berburu, teruslah berlari dan aku akan menyusulmu”, kata si Rea meyakinkan adiknya  dengan rasa iba. Setelah si Manik lari, si Rea pun minta ijin kepada saudara2nya untuk pergi melaksanakan nazarnya dengan membawa sedikit bekal diperjalanan. Beberapa saat kemudian setelah si Rea pergi, si Tendang, si Beringin, si Gajah dan si Berasa diam-diam mengikuti si Rea dengan maksud mengawasi dan melihat apa yang dilakukannya di Delleng Sempoon. Namun apa yang mereka dapatkan? Si Rea menghilang, ternyata dia telah lari menyusul adiknya si Manik. Pengejaran pun dilakukan dengan seruan kemarahan, “Bunuh si Rea, Bunuh Rea !” (dari sinilah awalnya Si Rea menjadi Marga Banurea). Pada jaman dahulu hampir semua orang memiliki ilmu kebathinan yang tinggi. Dalam pengejaran itu si Rea hampir tertangkap namun nasib baik tiba-tiba berpihak pada si Rea. Ketika  saudaranya mengejar, si Rea dalam keadaan terdesak,  si Rea hampir tertangkap, namun si Rea menghilang dengan begitu saja seperti ditelan bumi, mereka hanya menemukan sebuah batu hitam yang besar di depan mata mereka. Ternyata si Rea dalam lindungan sayap ayam hitam yang mereka kira adalah sebuah batu hitam yang besar. Si Rea pun selamat. (dahulu, pinempar Banurea memantangkan memakan ayam hitam).
Setelah aman dari pengejaran, si Rea meneruskan perjalanannya dan sampailah dia di Salak dan akhirnya disanalah dia tinggal menetap. Begitu juga dengan si Manik dalam pelariannya sampailah dia di Kecupak dan disanalah dia tinggal menetap. Dan selanjutnya mereka disebut dengan Manik Kecupak, atau disebut juga Manik Pergetteng-getteng Sengkut. Kemudian berserak lagi ke Pegindar.
Kejadian ini ternyata membawa kesedihan dihati si Tendang, Beringin, Gajah dan Berasa yang tinggal di Kampung Halaman. Mereka larut dalam kesedihan, termenung dalam kerinduan bersaudara. Mereka tidak dapat melupakan semua suka dan duka disaat mereka masih bersama. Dengan perasaan kehilangan, akhirnya si Tendang memutuskan untuk pergi merantau ke Boang Aceh Singkil sekarang. Si Beringin pun pergi ke Simerpara Kec. Salak Kab.Pakpak Bharat sekarang. Si Gajah  menetap di Parik Tnggeling dan Lebbuh Mssng Parmonangan-Pakkat dan selanjutnya berserak lagi ke Manduamas Tap-Tengah. Dan disanalah mereka tinggal beranak pinah sampai sekarang. Namun kepada si Berasa mereka berpesan agar tetap tinggal di kampung halaman sebagai ahli waris untuk menjaga Ulayat Sienem Koden.

BAB. III
  KISAH PERMESAWARI, BOANGMANALU DAN BANCIN
Setelah kejadian Kerungguen, si Banurea dan si Manik meninggalkan tanah sienem koden untuk selamanya dan tinggal menetap di Salak dan Kecupak. (Pakpak Bharat sekarang). Keadaan di tanah Sienem Koden pun tak seindah seperti dulu lagi. Kandungan Permesawaripun semakin besar, setiap hari dia selalu bersedih. Akhirnya diapun pergi meninggalkan Sienem Koden dengan penuh kesedihan mengikuti arah langkahnya yang tak pasti. Dia terus berjalan dan berjalan dan akhirnya dia sampai ditepian sungai Binanga Boang di sekitaran Salak (Ibu Kota Pakpak Bharat sekarang). Keadaannya cukup memprihatinkan berada didalam hutan rimba dalam keadaan hamil tua. Namun atas kehendak Yang Kuasa, Permesawari melahirkan seorang anak yang diberinya nama “Nalu”. Si Nalu bertumbuh semakin besar, namun karena pengaruh hidup dihutan tanpa pakaian, secara alami rambut diseluruh tubuhnya  bertumbuh cepat dan lebat sehingga sepintas terlihat seperti anak mawas. Dan bulu-bulu yang lebat itulah yang berfungsi mengimbangi dinginnya udara dan angin malam, sehingga dia bisa bertahan hidup. Mereka tetap tinggal di hutan dan tak tau pergi kemana. Mereka makan dari buah hutan dan ikan dari hasil pancingan si Nalu. Dahulu Marga Buangmanalu mempunyai ciri khas mempunyai bulu dada dan bulu tangan yang menyolok dari marga lainnya yang ada disana.
Pada suatu malam di sebuah bale di kuta Salak, yaitu sebuah rumah tempat berkumpulnya kaum bapak untuk  tidur beristirahat melepas lelah setelah  seharian bekerja. Tiba-tiba dikeheningan malam disaat semuanya telah terlelap, si Banurea terjaga dari tidurnya, sayup-sayup ia mendengar ada suara orang bernyanyi diluar sana, tapi kemudian ia tertidur kembali. Selang tak berapa lama ia terjaga kembali mendengar suara yang sama. Dia merasa heran karena hal ini tidak biasa, lalu dia membangunkan temannya dan bertanya apakah dia ada mendengar suara sayup2 orang bernyanyi. Tapi yang ditanya tidak mendengar suara apa-apa selain suara jangkrik yang saling bersahutan. Kemudian dia terjaga kembali untuk yang ketiga kalinya mendengar suara nyanyian yang sama, dia penasaran untuk mendekati suara itu tapi rasa kantuknya memaksanya untuk tertidur kembali.
Keesokan harinya dengan penuh rasa penasaran diapun mencari tau kepada orang-orang kampung menyangkut kejadian tadi malam. Rupanya bukan suara nyanyian melainkan suara tangisan seorang anak yang dikurung pada sebuah kerangkeng kayu. “Kenapa anak ini di kurung ?” tanya si Banurea merasa heran. “Ooh, itu bukan anak manusia Pak, dia anak mawas!” jawab seorang anak dengan polosnya sambil bertingkah seperti monyet mengejek yang ada didalam kerangkeng. Apa yang menyebabkan dia dikurung?” kembali si Banurea bertanya. Kemudian seorang anak yang lain menceritakan kejadiannya, “Begini Pak, sewaktu anak-anak kampung memancing ikan ditepi sungai, mereka melihat seorang yang mirip mawas memancing juga diseberang dan kailnya selalu beruntung, sementara anak-anak kampung tidak mendapatkan ikan. Lalu mereka mengusulkan agar mata kail anak itu dapat ditukarkan dengan makanan. Tapi, si anak mawas menolaknya. Akhirnya terjadilah perkelahian, si anak mawas menang telak, anak-anak kampung pulang menangis dengan penuh benjolan diwajah. Orang tua anak2 kampung tadi marah lalu menangkap si anak mawas dan mengurungnya didalam kerangkeng ini, Begitu ceritanya Pak”, katanya dengan sorot mata semangat.
Didorong  dari rasa ingin tau yang besar, si Banurea mendekati anak itu dan bertanya kepadanya tentang orang tuanya. Tapi anak itu hanya menunjuk kearah hutan yang ada diseberang sungai. Kemudian ia bertanya lagi, “Apa benar perkelahian itu terjadi karena kail ?” anak itu mengangguk membenarkan. “Boleh kah aku melihat mata kailmu, nak ?” bujuk si Banurea. Mungkin si anak ini merasa nyaman dengan si Banurea, si anak pun memperlihatkan mata kailnya. Setelah melihat mata kail itu, tiba2 si banurea terkejut, termangu lalu menangis sesunggukan. “Apakah ibumu bernama Permesawari, nak? tanya si Banurea untuk meyakinkan dirinya. “Ia benar Pak” jawab si anak keheranan. Maka seketika itu juga pecahlah tangis si Banurea sambil memeluk erat si anak.    “Bereku .  . . kau adalah bereku, aku sangat kenal dengan jarum pentul ibumu ini yang kau manfaatkan untuk mengail ikan”. (si Nalu inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Perkail Penter’ = pemancing dengan Mata Kail Lurus). “Ayo kita jemput ibumu, bere!”  ajak si Banurea yang kemudian segera bergegas untuk menjemput Permesawari. Sejak itu Permesawari dan si Nalu tinggal bersama si Banurea di kampung Salak. 
Pada suatu hari di perkampungan Salak, terdengar suara riuh teriakan ketakutan orang2 kampung memecah keheningan pagi. Semua orang sibuk bergegas mengumpulkan barang2nya yang dianggap berharga. Demikian pula halnya dengan si Banurea sambil berseru kepada si Nalu berenya, “Cepat berkemas Nalu, kita segera mengungsi bersama orang2 kampung” perintahnya kepada si Nalu dengan penuh rasa was-was dan khawatir. “Apa yang terjadi,Paman?” tanya si Nalu dengan rasa bingung tak mengerti. “Orang Boang telah datang hendak menjarah kampung kita !” jawab si Banurea sambil menarik kambing peliharaannya dengan bundel-bundel kain sarung yang menggantung di pundaknya. Begitu juga orang-orang  lainnya dengan sangat tergesa-gesa berupaya untuk dapat menyelamatkan keluarganya serta barang-barang yang bisa diselamatkan. Melarikan diri!
 Hal seperti ini bukanlah kali pertama terjadi, namun sudah berulang kali. Tapi apa daya, orang kampung Salak tak mampu untuk menghempang serangan orang Boang yang kuat. Mereka selalu menjarah barang penduduk serta tak segan2 membakar dan membunuh siapa yang melawan. 
“Kenapa mesti lari,Paman? Kita lawan kenapa rupanya ?!” usul si Nalu kepada Pamannya.    “Ah, banyak kali cakapmu, kayak ada aja tenagamu” balas si Banurea ketus. “Ayolah, aku didepan Paman!” kata si Nalu meyakinkan Pamannya sambil bergegas mengambil sebuah alu sebagai senjatanya. Kemudian si Nalu keluar menantikan kedatangan orang Boang yang beringas itu. Si Banurea pun mengikuti si Nalu dari belakang dengan rasa penasaran dan was-was. Begitu pula orang kampung terhenti langkahnya menyaksikan keberanian si Nalu yang berseru menantang orang Boang tersebut. “Hai orang Boang, hari ini kalian akan kuhancurkan !” teriak si Nalu sambil berdiri tegak menghadapi orang Boang yang datang dengan berlari mendekat sambil mengacung-acungkan goloknya. 
Disaksikan orang sekampung, si Nalu bergegas memasang senjatanya yaitu sebuah alu penumbuk padi yang kemudian dibentangkannya rapat diperutnya dan sambil berteriak keras si Nalu menyerang orang Boang dengan cara memutar tubuhnya yang berputar seperti gasing lalu membentur dan menghantam orang-orang Boang. Orang Boang kalah, mereka babak belur lari tunggang langgang kembali ke Boang. Semua orang kampung takjub melihat kejadian tak biasa itu, sejenak kemudian mereka terkesima dan tiba2 mereka bersorak, “Talu Boang man alu, talu Boang man alu” dengan rasa gembira dan bangga kepada si Nalu, mereka tidak menyadari terus mengelu elukan si Nalu. Dan sejak itu si Nalu bergelar “Boangmanalu” yang memaknai talu Boang man alu. (Kalah orang Boang oleh alu). Tak berapa lama berselang setelah kejadian itu si Nalu pun memutuskan untuk pergi merantau seperti kebanyakan anak remaja lainnya.
Seperti biasa satu kali dalam tiga bulan datanglah saudagar2  China, India, Arab dan Persia ke tanah Simsim untuk membeli Kulit manis dan Kemenyan. Tanpa diduga seorang pemuda Persia sangat berkenan hatinya melihat kecantikan Permesawari dan ia benar-benar jatuh hati dan berniat  untuk mempersunting Permesawari sebagai istrinya. Pada suatu hari datanglah si pemuda Persia kerumah si Banurea mengutarakan maksud hatinya  untuk melamar Permesawari. “Njuah-njuah Silih!” terdengar ucapan salam si pemuda Persia yang kemudian disambut si Banurea dengan salam “Njuah-njuah”. Setelah duduk dan berbasa-basi sebentar, si Pemuda pun mengutarakan maksud kedatangannya. “Hatiku sangat berkenan kepada Permesawari, sungguh aku jatuh cinta, kalau boleh aku tau, apakah dia mempunyai suami ?” kata si Pemuda berterus terang dengan penuh harap bahwa Permesawari belum bersuami. “Ooh begitu, turangku Permesawari belum bersuami dan anda boleh melamarnya!”  jawab si Banurea. “Kalau begitu hari ini aku melamarnya” kata si pemuda penuh semangat. Maka demikianlah halnya Permesawari pun bersedia menerima lamaran si Pemuda dengan mahar berupa emas dan riar/uang.  Sejak itu Permesawari sah menjadi istri Pemuda Persia. Dari perkawinan ini lahirlah seorang anak yang diberi nama “Bancin”. Dahulu semua marga Bancin ganteng2, namun sudah berkurang akibat perkawinan lokal. Memang masih ganteng sih.
Permesawari hidup rukun bersama si Persia, mereka tak pernah berselisih paham dan mereka selalu bersyukur dan hidup bahagia bersama  buah cinta mereka si Bancin yang tampan. Tapi disuatu hari, tak ada angin tak ada badai, rumah tangga Permesawari hancur berantakan, hanya karena kedatangan si Nalu dari perantauan. “Ibuuu . . !” teriak si Nalu dari depan pintu seraya memeluk ibunya Permesawari. “Ooh . . . , anakku Nalu” sambut ibunya dengan rasa bahagia. Mereka pun berpelukan, menangis saling menumpahkan kerinduan mereka. Si Persia termangu-mangu, dia heran tak habis pikir. Si Persia tak menyangka bila Permesawari istrinya telah mempunyai anak. Dia teringat waktu melamar Permesawari, bahwa silihnya si Banurea mengatakan kalau Permesawari belum mempunyai suami. Kata-kata itu terus muncul dan mengganggu pikirannya.
Si Persia tak terima, dia merasa ditipu silihnya si Banurea. Hatinya panas tidak karu-karuan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi menjumpai silihnya si Banurea untuk meminta pertanggungjawaban. Si Persia pun mengajukan keberatannya kepada si Banurea, “Begini silih, dulu silih bilang bahwa Permesawari belum bersuami, kenyataannya dia sudah mempunyai anak yang bernama si Nalu, Silih sudah menipuku, hari ini aku menuntut pengembalian mahar emas dan riar yang kuberikan dulu” tuntut si Persia dengan penuh kemarahan. “Aku tidak pernah menipumu, buktikan kepadaku siapa suaminya selain engkau?, jawab si Banurea dengan penuh percaya diri. Demikianlah mereka saling bersitegang dalam kebenaran masing-masing. Dan tak ada penyelesaian yang dapat ditempuh. Harga diri terlalu mahal ! Akhirnya terjadilah pertikaian, orang-orang Persia dipukul mundur, kemudian pulang ke Negerinya Persia dan tak pernah kembali. 
Sebagai makhluk sosial, tentu setiap orang tidak terlepas  dari keterikatan adat istiadat. Sesuai fakta yang ada Marga Boangmanalu dan Bancin dikategorikan kedalam marga Parna-Sigalingging, berdasarkan garis keturunan  ibunya  (Matrilineal). 

          BAB. IV
KISAH PEREBUTAN SIENEM KODEN DAN LIANG GEMUH
Si Berasa mempunyai tiga orang anak dan kemudian anak yang pertama membuka perkampungan baru di Sileang-leang (disebut Berasa Sileang-leang). Demikian juga anak yang kedua membuka kampung lagi di Lebuh Cemun Tanjung Sori, (disebut Berasa Tanjung Sori). Sementara anak yang bungsu tetap tinggal di Lae Ardan (disebut Berasa Lae Ardan). 
Setelah beberapa generasi marga Berasa menetap di Sienem Koden. Datanglah Tuan Nahoda Raja  (Simbolon Tua) ke Tanah Ulayat Si Enem Koden. Tuan Nahoda Raja mempunyai tujuh orang anak yaitu Simbuyak-buyak, Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan dan Nahampun. Pada mulanya marga Berasa ini hidup berdampingan secara rukun dengan keturunan Tuan Nahoda Raja. Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan lahan usaha pun semakin meningkat. Keturunan Tuan Nahoda Raja diam-diam mempunyai niat yang tidak baik untuk menguasai Tanah Ulayat Sienem Koden. Mereka menyusun rencana untuk memusnahkan pewaris ulayat Sienem koden Yang pada waktu itu, hanya Marga Berasa yang tinggal di Sienem Koden. Demi untuk memuluskan rencana itu mereka tak segan-segan membuang Simbuyak-buyak dengan cara memasukkannya kedalam sepotong kayu lalu menghanyutkannya ke sungai yang airnya mengalir sampai ke Aceh. Simbuyak-buyak adalah anak sulung yang terlahir tanpa tulang. Dia dianggap tidak mampu untuk meneruskan  keturunan dan hanya menjadi beban keluarga. Dengan menghilangkan Simbuyak-buyak, mereka berpikir sudah menjadi Sienem Koden sesuai dengan latar belakang berdirinya Sienem Koden. Secara perlahan mereka mulai memperkenalkan diri sebagai Sienem Koden. Hal ini mengakibatkan kemarahan si Berasa yang mulai tidak senang terhadap anak-anak Tuan Nahoda Raja yang ingin mencaplok tanah ulayat Sienem Koden.
Anak-anak Tuan Nahoda Raja mulai menyusun strategi , ketidak senangan sikap marga Berasa ini mendorong untuk mempercepat niat mereka. Dengan beraninya mereka sepakat merencanakan untuk memusnahkan Marga Berasa. Mereka berpikir bahwa dengan musnahnya marga Berasa maka tanah ulayat Sienem Koden secara otomatis berpindah kepada mereka.
Disuatu malam, tanpa sepengetahuan Marga Berasa, anak-anak Tuan Nahoda raja bergerak sembunyi-sembunyi dan dengan beringasnya mereka melakukan pembantaian. Namun satu orang anak laki2 dari keturunan Berasa Tanjung Sori dapat meloloskan diri dan lari ke Daerah Boang Aceh Barat. Begitu juga dengan Berasa Lae Ardan ada seorang anak  yang berhasil meloloskan diri dari pembantaian itu lalu melarikan diri ke Angkola (Kebetulan saudara mereka ada yang telah merantau sebelumnya di Aceh dan Angkola. Demikian juga halnya dengan keturunan Berasa Sileang-leang, seorang anak bayi laki-laki berhasil diselamatkan oleh Namberunya marga Bancin (Saudara perempuan ayah) dan berhasil dilarikan ke Situbuh-tubuh - Boang Aceh Barat. (Sekarang Kecamatan Danau Paris Kab.Aceh Singkil,setelah dimekarkan dari Aceh Selatan).
 Tidak lama setelah kejadian itu timbullah malapetaka yang menyengsarakan kehidupan di Sienem Koden. Hujan tidak turun, tanah menjadi kering kerontang, tanaman menderita. Terjadi Malapetaka! Malapetaka ini terkenal dengan sebutan “Rapar Mbelen”. (Kelaparan Besar).  Isuan page gabe isa-isa, isuan gadong gabe andor, ipakan babi gabe wangkah”. Yang artinya : ditanam padi menjadi padi-padian, ditanam ubi menjadi umbi-umbian dan dipelihara babi menjadi babi hutan. Air sulit didapat, makanan tidak tersedia dan kelaparan terjadi dimana-mana. Hari demi hari keadaan semakin memburuk, anak-anak mulai jatuh sakit. Untunglah hutan masih luas sehingga mereka dapat tertolong dengan memanfaatkan  buah kayu yang ada didalam hutan.
Melihat keadaan ini, anak-anak Tuan Nahoda Raja berembug untuk mencari upaya untuk menghentikan malapetaka ini. Hanya ada satu jalan yaitu bersembah ke Liang Gemuh  tempat keramat untuk meminta pertolongan. Maka mereka pun pergi ke Liang Gemuh dengan membawa segala persyaratan yang diperlukan.
Dengan penuh harapan mereka mulai memanggil dan memohon petunjuk serta pertolongan kepada Sang Mpung Penguasa Lebuh. “ Oo, ale Mpung . . , kami semua cicit-cicitmu dalam keadaan kelaparan, apa yang salah dan kenapa semua ini bisa terjadi kepada kami ?”, kami tanam padi jadi padi-padian, kami tanam ubi, jadi umbi-umbian dan kami pelihara babi, jadi babi hutan”, tolong beritahu kami, apa mulanya apa sebabnya Pung ?” 
Tiba-tiba terdengar angin berdesir dan menyusul terdengar suara gemuruh dari dalam liang, “Hai, kalian manusia yang tak tau berterimakasih, kelakuan kalian telah salah, kalian melakukan yang tak patut dan tak pantas terhadap marga Berasa”. Kemudian keadaan kembali senyap. Mendengar jawaban itu hati mereka kecut dan mereka saling menatap satu sama lain. Setelah merenung beberapa saat, merekapun memberanikan diri untuk bertanya kembali. “Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan, agar kutukan ini segera berlalu, Pung ?” tanya mereka.  Kemudian terdengar suara jawaban dari dalam liang, “Jemput marga Berasa itu kembali ke kampung halamannya!”. Mendengar itu merekapun segera berfikir untuk menyatukan pendapat lalu mereka menjawab. “Haruskah begitu,Pung ?. tanya mereka memastikan. “yaaa . . .  ! terdengar lagi suara gemuruh dari dalam liang, lalu kembali senyap seperti sedia kala. Kemudian mereka pun pulang.
Anak-anak Tuan Nahoda Raja tak menyangka kalau pada saat pembantaian itu ternyata ada yang lolos. Mereka harus menemukan Marga Berasa yang lolos dari pembantaian tersebut serta harus berhasil membujuknya untuk mau pulang ke kampung halaman. Akhirnya mereka mendapat petunjuk bahwa Berasa pelarian berada di daerah Boang Aceh, lalu merekapun bergegas kesana. Mereka bertemu dan dengan segala upaya mereka berhasil meyakinkan si Berasa sehingga ia mau kembali. Sesampainya dikampung, merekapun langsung ke Liang Gemuh melaporkan kepulangan si Berasa. Mpung Liang Gemuh membenarkan mereka dan berkata “ Sudah benar, tapi masih ada !” Dengan rasa kecewa mereka pun pulang kerumah sambil berfikir siapa lagi yang akan dijemput. Kemudian mereka mendapat petunjuk lagi bahwa Berasa pelarian yang lain ada di daerah Angkola-Mandailing. Merekapun pergi kesana dan ternyata benar adanya, si Berasa pun dapat pula diyakinkan dan bersedia pulang ke kampung. Seperti yang pertama si Berasa ini pun segera dibawa ke Liang Gemuh dan melaporkannya kepada Mpung Liang Gemuh. “Oo, ale Pung, kiranya engkau berkenan, kami telah membawa Berasa yang lain”. Suara sahutan pun segera terdengar dari dalam liang. “Sudah benar, tapi masih ada”. Mereka saling bertatapan tak habis pikir, kemana lagi mereka harus mencari. Sebenarnya mereka sudah hampir menyerah dalam menjalankan pencarian si Berasa berikutnya dan mereka tak tau kemana lagi akan mencarinya. Namun karena keadaan kehidupan yang semakin mengkhawatirkan, dan korban kelaparan serta  penyakit yang semakin parah, mereka pun menguatkan tenaga untuk tetap mencari Berasa yang lain sampai tuntas. 
Dari berbagai informasi yang mereka dengar mereka mendapat khabar bahwa Marga Berasa ada di Aceh Singkil. Dengan tidak membuang waktu merekapun segera  beranjak kesana, dengan susah payah melewati berbagai rintangan menembus hutan akhirnya mereka bertemu dengan si Berasa yang mereka cari. Seperti halnya dengan Berasa yang lain, merekapun membujuk dan berupaya untuk meyakinkan dia agar tidak merasa ragu dan takut bahwa ajakan mereka adalah tulus untuk tujuan penyelamatan dan perdamaian. Mereka juga menceritakan bahwa kawan2 Berasa pelarian yang ada di  Boang Aceh dan Angkola  telah berkumpul kembali di Lebuh dalam keadaan aman dan damai. Pada awalnya si Berasa merasa ragu, jangan2 ini adalah tipu muslihat pikirnya. Tapi melihat keseriusan dan ketulusan  mereka, keraguannya berkurang. Namun dia ingin menguji dan memastikan ketulusan mereka, maka dia pun mengajukan persyaratan untuk mau kembali ke Lebuh. “Aku bersedia pulang ke kampung halaman, tapi melalui tiga syarat”, katanya kepada mereka. “ Apa syaratnya katakanlah”, sambut salah seorang diantara mereka. “Pertama, plangkah babi ku ini harus kalian bawa sampai ke kampung halamanku”, apakah kalian bersedia ?“, tanya si Berasa. Plangkah babi (tempat makan babi) ini terbuat dari batu yang beratnya bisa diangkat oleh dua orang dewasa. “Ya, kami siap !, dan yang kedua katakanlah, biar kami jawab “, kata mereka. “Yang kedua, aku tak mau kakiku memijak tanah mulai dari tempat ini sampai ke kampung halamanku di Sileang-leang”, kata si Berasa menandaskan persyaratan kedua. Mendengar syarat yang kedua, merekapun saling berpandangan, mereka bingung untuk menjawab. Lalu merekapun menanyakan persyaratan ketiga, “Syarat yang ketiga, katakanlah agar sekalian kami menjawabnya”, ujar mereka mulai bimbang. “Yang ketiga, suara gendang harus senantiasa mengiringi perjalananku” Ujar si Berasa tegas.
 Mendengar persyaratan yang kedua dan ketiga, merekapun mengundurkan diri beberapa waktu untuk berpikir mencari cara untuk dapat menerima persyaratan tersebut. Mereka bingung, sementara berjalan sendiripun sulit melewati berbagai rintangan di dalam Hutan dan semak belukar berduri.  Namun kemudian mereka mendapat cara untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut. Dengan yakin mereka kembali menemui si Berasa dan menyatakan kesiapan mereka untuk menerima serta melaksanakan persyaratan tersebut. Sambil membentangkan “Belagen mbentar si mergerar Dingding Ulu” dihadapan si Berasa, merekapun berseru, “Turunlah engkau Berasa dan selalulah berpijak pada tikar ini, percayalah bahwa engkau tidak akan menginjak tanah sampai kekampung halamanmu seperti yang engkau kehendaki”. Belagen mbentar Dingding Ulu adalah sejenis tikar adat Pakpak berwarna putih yang mempunyai pasangan yang disebut kembal. Belagen Dinding Ulu ini mirip dengan tikar adat Pakpak sekarang, bedanya hanya lebih besar dan lebih panjang sedikit. Pada jaman dahulu belagen mbentar dingding ulu dan kembal ini hanya digunakan pada acara Adat Mbelen (Pesta Adat Besar). Begitulah selanjutnya si Berasa terus berjalan diatas dua helai tikar putih yang ditarik dan dibentangkan sambil terus berjalan diringi gendang yang terus ditabuh dan sementara plangkah babi mereka jujung secara bergantian.  Inilah kisah marga Berasa yang berjalan diatas Tikar putih dari Aceh sampai ke Sileang-leang Parlilitan. Dan Pelangkah Babi yang dibawa dari Situbuh-tubuh Aceh diabadikan diatas Tugu Berasa Sileang-leang di Sigulang-gulang Desa Sionom Hudon Toruan Kec.Parlilitan Kab. Humbahas.
Seperti yang lain, si Berasa ini pun mereka laporkan ke Liang Gemuh ,“Inilah Pung, kami sudah membawa Berasa ini” lapor mereka kepada Mpung Liang Gemuh. Kemudian seperti biasa angin berdesir dan lalu menyusul suara gemuruh dari dalam liang, “Inilah dia, sudah benar, mulai hari ini jangan lagi berselisih, agar apa yang kalian kerjakan berhasil, bernas tanaman diladang dan berkembang biak ternak di padang.”.  Angin pun berhenti berdesir kemudian kembali tenang seperti sedia kala. Senyap.
Hujan pun mulai turun kebumi, tanam-tanaman mulai bersemi kembali dan anak-anak pun mulai gembira bermain dihalaman. Ayampun mulai bertelur dan babi beranak dikandangnya. Kehidupanpun  semakin ceria dihiasi senyum para ibu didepan suami yang tersenyum meneguk kopi, sambil menghembuskan asap rokok baja dari mulutnya yang kempot karena kurang makan.
Disisi lain, marga Berasa selalu teringat pada ladang dan kebunnya yang telah bersusah payah diusahai ditempat pelariannya selama hampir 35 tahun. Disamping itu marga Berasa masih trauma belum bisa melupakan kejadian pembantaian atas saudara2 mereka. Selalu timbul rasa khawatir dan was-was kalau2 mereka mengulanginya kembali. Marga Berasa tinggal sedikit, bagaimana mungkin untuk melawannya. Hati mereka berkeinginan kembali pergi.  Namun hal ini pula lah yang merisaukan hati anak-anak Tuan Nahoda Raja, mereka khawatir bila marga Berasa pergi, keadaan akan kembali ditimpa malapetaka. Mereka berpikir dan mencari upaya agar marga Berasa tidak lagi pergi ketempat pelariannya serta dapat merasa nyaman tetap tinggal di kampung bersama mereka seperti sedia kala. Kemudian mereka pun berkumpul untuk berdiskusi mencari upaya yang bisa mencegah keinginan mereka tersebut. Akhirnya mereka menyimpulkan satu kebijakan penting. “Agar mereka tidak lagi pergi ketempat pelariannya,mari kita jadikan mereka sebagai menantu”, usul salah seorang penatua dan mereka semua setuju dan mendukung keputusan tersebut.
 Adalah tiga orang pemuda Berasa (yg telah dijemput pulang) yang akan mereka jadikan sebagai menantu, sementara gadis yang dipersiapkan sebanyak enam orang masing2 satu dari setiap marga Tuan Nahoda Raja. Dalam pesta penentuan jodoh ini telah disepakati bahwa pihak si Gadis tidak diperbolehkan untuk menentukan siapa yang menjadi menantunya dan begitu juga sebaliknya bahwa si Pemuda Berasa pun tidak berhak untuk memilih jodohnya. Ketentuan sudah disepakati, pesta pun dimulai. Genderang mulai ditabuh sedemikian rupa dan semua orang ikut tumatak (menari/menortor) mengiringi musik. Ketiga pemuda Berasa yang tidak mampu menolak keputusan ini ditempatkan secara berhadapan dengan ke enam gadis tersebut sambil tumatak. Sesuai ketentuan, gadis mana nantinya yang jemba (jatuh terjerembab) kepelukan si pemuda, maka dialah yang menjadi jodohnya. Sementara semua orang larut mengikuti gemuruhnya genderang, jatuhlah tiga gadis kepelukan masing2 si pemuda Berasa. Melihat itu mereka pun bersorak gembira, karena jodoh sudah didapatkan. Ketiga gadis yang jatuh kepelukan si pemuda Berasa yaitu, Berasa Sileang-leang/beru Tumangger, Berasa Tanjung Sori/beru Tinambunan dan Berasa Lae Ardan/beru Turuten yang kemudian kawin lagi dengan br Pinayungen karena tidak mempunyai anak laki-laki. Inilah awalnya Pinempar Tuan Nahoda Raja kawin dengan pinempar Mpu Bada. Dan dari sini pula lah berawal marga Berasa menjadi Beru Mbelen marga Tinambunan.  (bhs Toba = Boru Sihabolonan).
Seiring dengan kemajuan jaman, Klasen mulai beranjak maju. jalan setapak satu-satunya akses menuju Pakpak Bharat mulai diperlebar melalui Program ABRI Masuk Desa (AMD). Akses jalan ke Doloksanggul yang dulunya belum bisa dilalui kenderaan mulai dibenahi. (± Tahun 1980), namun hanya bisa dilalui kendaraan gardang dua. Klasen yang dulunya terisolir kini telah terbuka. Pemuda/i mulai pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan dan ada pula pergi merantau untuk mencari pekerjaan.
Inilah awalnya marga Berasa mulai memperkenalkan marganya di perantauan. Namun orang-orang selalu heran dan selalu bertanya, “Apa itu Barasa ?” Dan akhirnya mereka menyebut Manik, mengikutkan Marga saudaranya. Disamping itu tentu lebih nyaman pula bila dikaitkan dengan marga ibunya yang kebetulan keturunan Tuan Nahoda Raja. Tapi sangat disayangkan, karena prediksi orang yang bertanya selalu menganggap Manik itu adalah Pasaribu. Belum semua orang tahu bahwa selain Manik Borbor masih ada Manik yang lain seperti Manik Siketang, Ginting Manik dan Manik Mpu Bada yang sama sekali tak ada kaitan silsilahnya dengan Borbor. Beda dengan marga Gajah dan marga Berasa yang tinggal di Parmonangan dan Siambaton Pakkat, sejak awalnya mereka tetap konsisten mempertahankan marganya dan selalu mengaku Parna. Dengan demikian marga Berasa terjebak kedalam dua pengakuan yang berbeda, yaitu Berasa yang tinggal di Lae Ardan Kec.Parlilitan cenderung mengaku Pasaribu, sementara Berasa yang tinggal di Siambaton Pakkat mengaku sebagai Parna-Sigalingging.

BAB. V
  PEMBAHASAN
Pada mulanya keturunan Mpu Bada hidup berdampingan secara rukun dengan keturunan Tuan Nahoda Raja. Begitulah sampai beberapa generasi, tidak ada perkawinan diantara mereka. Kuat kemungkinan bahwa mereka adalah bersaudara (dengan sebeltek). Jika mereka bukan bersaudara, kemungkinan mereka sudah saling kawin mengawini dan kemungkinan perselisihan pun tidak akan terjadi, apa lagi sampai kepada pembantaian (Genosida).  Dan bila kita perhatikan orang yang bersaudara, biasanya lebih gampang bertengkar dari pada orang yang merkula-kula-merberu (besan-ipar).
Setelah Kejadian Liang Gemuh, barulah terjadi perkawinan antara marga Berasa dengan beru Tuan Nahoda Raja. Marga Berasa dipaksa dan terpaksa dan kemudian hari menjadi terbiasa. Perkawinan ini terjadi semata-mata demi untuk kehidupan orang banyak akibat terjadinya kutukan malapetaka kelaparan besar yang terjadi di Sienem Koden. Dan ternyata perkawinan mereka bahagia, mereka dianugerahi keturunan serta kebutuhan hidup yang tercukupi. (disebut : Beak Gabe). Kejadian ini sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, karena orang lain yang mau ditandangi pun belum ada pada waktu itu, sementara hubungan keluar masih sangat sulit karena terpencil dan terisolir. Perkawinan ini terus berlanjut di perantauan sampai ke Tanah Pakpak. Semuanya berjalan baik-baik saja tanpa ada masalah. Barulah kemudian setelah terbukanya akses ke luar,bertambah pula penduduk yang datang ke Klasen, pemuda/i Klasen pun mulai merantau ke kota, Tarombo Raja Batak pun mulai menjadi perbincangan hangat. Tarombo Raja Batak inilah yang kemudian menjadi sumber persoalan sampai sekarang. (Dalam Tarombo Raja Batak : Mpu Bada terkait dengan marga Sigalingging). 
Secara khusus di Sienem Koden, keturunan Mpu Bada yang tidak melanjutkan perkawinan dengan keturunan Tuan Nahoda Raja, mengaku sebagai Parna,sementara yang terus melanjutkan perkawinan dengan keturunan Tuan Nahoda Raja, tidak mengakui dirinya bagian dari Parna.
 Ada dua kemungkinan yang dapat dijadikan sebagai bahan pemikiran, yaitu :
1. Kalaulah benar Mpu Bada adalah Sigalingging dan Tuan Nahoda Raja (Simbolon), sama-sama Parna, kurasa perkawinan yang sudah terjadi sejak lama ini tak perlu ditutup-tutupi lagi, karena ini hanya berlaku khusus bagi keturunan Mpu Bada dengan keturunan Tuan Nahoda Raja. Hal ini  dilakukan secara sadar dengan dasar kemanusiaan untuk menghentikan Kutukan Bala Kelaparan yang terjadi disana. Kalau kita perhatikan, marga yang lain pun banyak yang terjadi seperti ini bahkan terhadap saudaranya beda bapak. Dan karena sudah beak–gabe (bahagia) akhirnya berlanjut dan dibenarkan. 
Dan jika benar demikian mungkinkah hal ini yang mendorong sebagian anak-anak  Mpu Bada ini untuk tidak mengaku Parna ? Dan apakah pengaruh motto Parna “Tung naso jadi marsiolian”yang semakin lama menimbulkan keresahan dan menjadi sebuah momok atau monster yang sangat mengganggu ? Yang menjadi bumerang bila mengaku Parna ? Kemudian mengakui dirinya ke Pasaribu, ternyata disana tidak memiliki kesesuaian. Apakah ada kemungkinan untuk menghindari  semua ini, maka timbul statemen jalan pintas untuk sama sekali tidak mengaku Batak ? Dan bagaimanakah hubungannya dengan marga keturunan Tuan Nahoda Raja (Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan dan Nahampun) yang begitu ngotot mengklaim atau menutup-nutupi bahwa Keturunan Mpu Bada Bukan Parna, sehingga menambah rumitnya pemasalahan ini. Bukankah keturunan Tuan Nahoda Raja  sudah melanggar Adat ? Mereka tak layak lagi disebut Parna ! Bagaimana sikap Parna ?
Untuk mengatasi masalah ini, tidak ada salahnya kita merenung sejenak dan mencoba untuk meminta pengertian kepada Ketua Parna Indonesia untuk dapat membuat “Pernyataan Pengecualian” khususnya terhadap keturunan Mpu Bada dengan keturunan Tuan Nahoda Raja agar dapat dimaklumi pihak Parna. Sehingga dengan demikian kita akan terlepas dari bayang-bayang tuduhan “Sumbang”. Dan bila hal ini bisa terlaksana maka keturunan Mpu Bada bisa bersatu sehingga dapat terhindar dari persoalan yang tak berkesudahan yang mengarah kepada perpecahan yang tak berguna.
2. Deklarasi “Kami Bukan Parna” sudah mulai diviralkan. Begitu pula dengan isu “Pakpak Bukan Batak” semakin merebak. Alasannya bahwa Mpu Bada dan Suku Pakpak sudah ada sebelum masehi yang datang dari India Selatan sementara suku Batak baru datang kemudian pada Abad ke 12. Hal ini dikuatkan dengan peninggalan sejarah seperti Mejan, alat musik/kesenian, kemenyan dengan Odong-odongnya, Tangis milangi, Nangn dan lainnya. 
Untuk meyakini semua itu, tentu kita membutuhkan argumentasi yang kuat yang dapat diterima akal sehat. Secara sederhana kita dapat membuat analisa dari segi jumlah generasi yang ada dan memperhatikan banyaknya bahasa yang sangat mirip bahkan sama  dengan bahasa Batak. Apakah kedua hal itu tidak ada hubungannya ? Atau hanya kebetulan saja ? Semuanya itu masih perlu mendengar penyataan para ahli sejarah yang independen dan hasil penelitian para Arkeolog. Mari kita tunggu !
Melihat keadaan ini, pemuda keturunan Mpu Bada sepertinya berdiri diantara simpang yang sedang menatapi wanita2 didepan mata. Kalau wanita itu biasa2 saja maka dia akan berlalu. Tapi manakala dia melihat beru Tinambunan yang cantik, beru Tumangger yang aduhai, dia akan melarikannya lewat jalan Tol. Dikhawatirkan pemuda Mpu Bada yang saat ini vokal mempertahankan Parna, suatu saat bisa berubah beringas mengatakan “Sebenarnya kita bukan Parna”! Itu karena adanya pilihan, dan adanya dukungan. Mudah2an tetap eksis dilapangan. He. . he, . .he . . .
Demi kondusifitas kedua belah pihak, sambil menunggu perkembangan selanjutnya, maka untuk sementara ini marilah kita saling menjaga dan saling menghormati prinsip masing2. Karena kita adalah bersaudara. Bagi yang mempunyai istri Tinambunan, dkk atau yang ingin kawin dengannya, biarlah dia memilih sesuai dengan keyakinannya untuk tidak Parna. Mudah2an suatu saat nanti ada titik temu sehingga kita bisa bersatu. Njuah-njuah.
BAB. VI
     KESIMPULAN DAN SARAN
Sesuai Kata Pembukaan dan Pendahuluan diatas, sesungguhnya aku bukan pakar sejarah, bukan pula peneliti bahkan tidak mempunyai bakat kearah itu. Namun melihat keadaan kita yang terjebak kedalam pemahaman yang berbeda tentang asal -usul Mpu Bada serta hubungannya dengan rumpun Batak sudah cukup memprihatinkan. Demikian juga halnya dengan Si Enem Koden yang sudah kabur pemaknaannya.
Seperti halnya dengan saudara yang lain, akupun kadang kala merasa terjepit pada situasi pertuturen adat istiadat diantara yang menyalahkan dan yang membenarkan. Situasi ini terjadi berlarut-larut tak berkesudahan. Yang seide merasa dekat, yang tidak seide menjadi renggang bahkan saling merendahkan. Banyak yang bertanya, sebenarnya kita ini kemana ? Yang ditanya juga tidak jelas. Bingung ! Perbedaan2 inilah yang menjadi kekhawatiran pemicu perpecahan. Apa lagi banyaknya perantau yang kurang memahami sejarah dan budaya khususnya tentang sejarah Mpu Bada. sehingga  menambah kesimpang siuran pemahaman terhadap kebenaran yang sesungguhnya.
Sehubungan dengan viralnya Deklarasi Kami Bukan Parna serta melihat tanggapan para netizen yang cukup antusias aku berpikir bahwa inilah saatnya para tokoh berbicara. Aku membagi Kisah ini bukan karena aku tokoh. Tapi aku khawatir karena Virus Corona, maka segera apa yang kuketahui, apa salahnya untuk berbagi. Ini ceritaku, mana ceritamu ?
         
         BAB. VII
         PENUTUP
Saya menyadari sepenuhnya bahwa cerita ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang dapat mengganggu. Namun dibalik semua itu dengan sejujurnya aku tidak mempunyai maksud kesengajaan untuk membelokkan sejarah yang dapat mengakibatkan kerugian kepada pihak tertentu. Untuk semua itu pada kesempatan ini terlebih dahulu aku memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat dalam Kisah ini.
 Dan dengan segala kerendahan hati, demi untuk kesempurnaan tulisan ini, Saya sangat mengharapkan bimbingan, saran maupun kritikan yang membangun dari semua pihak sehingga tulisan ini dapat bermanfaat terlebih untuk generasi selanjutnya.
Akhir kata Saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada para leluhur dan para tua-tua  yang telah berjasa menceritakan kisah ini. Demikian juga terima kasihku kepada saudara-saudara yang telah memberikan dukungan, saran dan masukan sehingga tulisan ini dapat diselesaikan.
Syalom . . .  Njuah-njuah mo banta karina.

           Tebing Tinggi,18 Maret 2020
                                                                                   Oleh.                                                                                                                  
                                                                             St. Talmusona Banurea, A.md

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tapak Ir. H. Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul